Tuesday, February 26, 2013

Up in the Air

Star: George Clooney

Film tentang seorang eksekutif yang hidupnya banyak dihabiskan di perjalanan, pesawat, tempat2 baru, hotel. George Clooney berperan sebagai seorang yang digaji untuk memecat karyawan, ia datang dari satu kantor cabang ke kantor cabang lain untuk menyampaikan berita buruk dengan cara terbaik. Setiap tahun, ia menghitung berapa banyak hari tersisa yang harus ia habiskan di rumahnya. He's a single man, never thought about marriage or having children. And he don't like to be at home...

Bagian menarik dari film ini adalah tentang obsesi George untuk mengumpulkan 10juta miles agar dapat penerbangan gratis ke bulan. George juga punya pekerjaan lain sebagai speaker di sebuah forum. Ia selalu menganalogikan hidup kita bagai sebuah 'backpack'. “Perlahan pejamkan mata Anda. Bayangkan hidup Anda bisa dimasukkan ke dalam sebuah ransel sebesar ini. Mulai dari hal terkecil, sampai semua hal yang Anda anggap penting untuk dibawa. Lalu naikkan ransel itu ke pundak Anda, seberapakah beratnya?”

George ingin menyampaikan bahwa hidup kita terasa berat karena semua beban bawaan yang kita anggap penting. Keadaan akan jauh lebih ringan, saat kita hanya membawa sedikit dari beban tersebut. Saat kita bisa memilih apa yang terpenting dan saat kita bisa menentukan batasan. Sebagai seorang traveller, ia adalah orang yang sangat efektif. Hanya satu 'carry on' di setiap perjalanan. Sebagai seorang laki-laki ia menentukan pilihan, tidak akan memberatkan diri dengan pernikahan dan anak.

Hingga di satu titik, ia bertemu dengan Alex. Perempuan eksekutif yang sama sibuknya, berpindah dari satu bandara ke bandara yang lain. Akhir cerita tidak berakhir manis, tapi tetap berkesan.

Kenapa berkesan? Seperti yang pernah dosenku bilang, 'kita cenderung membuat korelasi' dari sebuah kejadian apapun ke hidup kita sendiri. Aku pernah membayangkan seperti apa hidup yang penuh dengan jadwal perjalanan, aku juga sudah pernah mencoba. Lelah...

Selalu mudah untuk menyatakan bahwa kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita punya saat ini, namun kenyataannya tidaklah mudah untuk membuat jiwa dan pikiranku 'settle down'. Setiap kali ingin berteduh, setiap kali pula ada bagian diri yang ingin pergi menjauh lagi. Pertanyaannya kemudian, sampai kapan?



Wednesday, December 19, 2012

A Letter for Myself

Ada-ada saja cara dosen kami disini untuk membuat kami menulis. Dan kali ini, kami disuruh membuat surat kepada diri sendiri tentang perkembangan apa yang dirasakan selama belajar di FVTC dan apa yang ingin lebih dikembangkan di masa depan. Berikut isi suratku:

Dec 16, 2012

Dear me,
 

Wednesday, December 12, 2012

talk the Talk and walk the Talk

Pernah dengar istilah itu, teman? Menurutku itulah hal yang tersulit untuk dilakukan. Mengapa? Karena kebanyakan kita lebih mudah untuk bicara daripada melakukan. Kita mudah memberi saran, memberi ceramah tapi belum tentu bisa melaksanakan sendiri apa yang kita bicarakan. Selalu lebih mudah untuk memberi tau orang lain tentang apa yang baik, tapi jarang sekali diri kita bisa memberi contoh.

Secara tidak langsung, selama disini, kredibilitas-ku terbangun. Bukan hanya dari kelas-kelas yang mengajarkan berbagai ilmu, tapi juga pribadi orang-orang yang kutemui. Katakanlah, tidak semua orang Amerika itu beriman, tapi mereka tau bahwa mereka harus berbuat yang benar, ada atau tidak ada orang lain yang menyaksikan. Menurutku, it's amazing! Karena di bumi kita yang 90% muslim, justru masih banyak kasus korupsi dan kriminalitas lainnya.

Aneh? Memang. Kejujuran buat orang Amerika adalah hal yang mutlak. No compromise. Bukan karena mereka takut akan hukum tapi karena tau, bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan adalah bagian dari diri mereka, kredibilitas. Dosenku bilang, 'jika kamu tidak ingin orang lain membaca di koran pagi tentang apa yang kamu lakukan, jika kamu tidak ingin ibu-mu tau dan malu saat mendengar kamu melakukan sesuatu hal, maka JANGAN lakukan. Itu saja kuncinya'.

Di sisi ini, aku bukan ingin mendewakan keunggulan orang Amerika. Bukan. Hanya ingin sekedar menceritakan bagaimana sebenarnya kita bisa membangun negeri kita, mulai dari diri sendiri. Mulai dari 'talk the Talk dan walk the Talk'. Yok mari... Practice all you preach. Mulai hari ini, mulai dari sini.