Sunday, May 22, 2011

Intuisi


Percaya dengan yang namanya intuisi? Ya, feeling lah orang muda bilang. Saat aku sedang dalam bimbang, mengenai suatu hal ringan yang sebetulnya mudah saja. Mencoba hal baru dan mengambil resiko? Atau mendengar kata orang disekelilingmu dan mengambil jalan aman? Sebetulnya, jika mau coba-coba, aku mungkin akan ambil jalan pertama seperti biasanya. Tapi kali ini, aku ambil jalan kedua. Mengapa? Karena intuisi ku bilang, ada keganjilan di pilihan pertama. Dan keganjilan itu membawaku pada rasa tak aman. So, I better believe it, before something bad happen.

Kadang aku begitu tergoda akan hal baru, yang tanpa berpikir panjang, akan langsung ku lakukan. Dalam hal-hal tertentu, ini baik. Tapi kadang, ini berdampak buruk. Mengingat ada setiap konsekuensi dibalik semua keputusan. Pikirkan ini sebelum melangkah. Siap dengan konsekuensi nya? Akibatnya? Apa hasilnya? Selalu ini yang kutanyakan pada diri sendiri. Bukan untuk menghalangi langkah, tapi lebih untuk meyakinkan diri sendiri bahwa aku siap.

Kesiapan mental akan menggiring kita pada kemantapan langkah, teguh saat memilih dan bertahan saat datang cobaan. Terima kasih ukhti & ikhwan, yang sudah mengingatkanku. Aku siap sekarang.

Sunday, May 15, 2011

grasshopper (3)

Dia tersesat. Ini kali pertama ia menjejakkan kaki dikota tempat aku tinggal sementara waktu. Kota yang sebenarnya sama-sama asing untuk kami berdua. Hanya saja, waktu mengizinkan aku datang lebih dulu dan belajar lebih awal, hingga aku berkesempatan mengenal jalan disekitar kota ini. Ia akan bekerja. TKI terdidik mungkin lebih tepatnya. Laki-laki muda yang gagah, meski agak sedikit kaku dan tidak banyak bicara. Aku sendiri hanya seorang mahasiswa miskin yang mendapat berkah beasiswa. Hanya perempuan biasa, tidak cantik dan tidak banyak teman. Hanya beberapa orang teman dekat dan selebihnya teman kampus yang cuma dekat karena kesamaan kepentingan.

Hari itu, aku mengantarkannya ke alamat yang ia tunjukkan dalam buku catatannya. Buku catatan yang sangat rapi untuk ukuran pria. Tulisan mungil, bersih tanpa coretan. Kenapa aku bersedia membantunya? Entah, mungkin kala itu aku tengah bosan membaca atau mungkin karena nurani ku tergerak berbuat baik. Sepanjang perjalanan didalam kereta yang bergerak sangat cepat, kami hanya sedikit bertukar informasi. Dan satu-satunya contact yang ia berikan padaku hanyalah sebuah id pada mesin penyampai pesan. Aneh, kenapa aku tidak bertanya lebih?? Dia juga tidak meminta lebih.

Saat dia tiba di apartemen temannya, ia membungkuk dalam, mengungkapkan rasa terimakasihnya. Aku balas menunduk. Ia tidak mempersilahkan aku masuk dan aku juga sedang tidak ingin lebih lama diam dalam kekakuan. Aku pamit. Turun dari apartemen itu, aku terpaku pada warung ramen disudut jalan. Udara dingin membuatku lapar. Kakiku melangkah, masuk menyibak tirai warung yang saat itu sedang tidak terlalu ramai. Aku mengambil tempat duduk di sudut, dekat jendela. Sambil menunggu pesanan, mataku kembali memandang apartemen dari kejauhan. Hari yang aneh. Aku yang biasanya apatis, hari ini berjalan hingga sejauh ini hanya untuk mengantarkan seorang pria yang belum kukenal. Pesanan datang. Aromanya membuatku berhenti berpikir. Setidaknya aku sudah berbuat satu kebaikan hari ini. Makan sajalah.

Wednesday, May 11, 2011

Tiger Mom

Pernah denger istilah diatas? Itu istilah baru, untuk ibu yang super kejam, atau sangat disiplin lebih tepatnya. Ada buku berjudul sama yang jadi bahan diskusi akhir2 ini. Aku sendiri belum baca, hanya tau inti permasalahan yang dibicarakan dalam publikasi tersebut.

Kebanyakan orang Cina yang mereka biasa sebut dengan "tiger mom", kenapa ? Karena mereka super disiplin mendidik anak-anaknya. Mungkin orang luar yang melihat, akan menganggapnya sebagai penyiksaan. Namun kenyataannya, secara statistik, anak-anak Cina jauh lebih berhasil dibanding anak-anak lain yang dididik secara moderate. Ibu moderate cenderung membiarkan anak-anaknya mengambil keputusan sendiri tentang apa yang dianggap baik. Tidak ada pemaksaan apalagi penyiksaan. Tapi masalahnya apakah anak-anak bisa membuat keputusan?

Aku sendiri menganggap diriku berada diantara kedua-nya. Tidak moderate dan juga tidak terlalu memaksa. Ada kalanya kita harus mengalah, memberikan waktu bermain lebih lama. Tapi ada saat, dmana kita harus memberi tahu dan memberi contoh kepada anak, tentang bagaimana seharusnya.
Contoh kasus, anakku tidak mau sekolah. Alasannya macam2. Oke, hari ini aku perbolehkan dengan pertimbangan masih banyak saudara2nya yang berkumpul dirumah. Mungkin dia belum puas bermain.
Besoknya, masih tidak mau. Karena ini itu, fine. Masih dimaklumi, mungkin dia capek karena terlalu banyak main. Lusa, masih mogok juga?
No compromation, kids! Hari ini harus sekolah. Aku angkat dia, lepasin baju-nya dan paksa mandi. Siapin peralatan dan berangkat.

Alhasil, sore-nya dengan riang ia bercerita tentang aktivitas di sekolah hari itu. Tentang kenakalan teman2nya. Ini membuktikan semua drama tadi pagi, tidak banyak berpengaruh. Dia masih menikmatinya. Begitu sampe pintu gerbang ga ada rengekan 'ga mau sekolah'. PR juga sama.
Dalam minggu2 awal, harus selalu diperiksa, di ingatkan bahkan kadang dipaksa. Berikutnya, dengan kesadaran sendiri, dia akan mengerjakan tugasnya. Dan dengan bangga melapor, 'Bu, PR-ku sudah kuselesaikan sendiri!' That's my girl.

Memang harus ada yang jadi tiger dalam satu rumah. Kalau yang satu memanjakan, yang satu harus disiplin. Yang satu malas, yang satu harus tegas. Aku yang menjadi bagian jelek itu. Meski sekarang anak-anakku akan melihatku sebagai ibu yang ga asyik, tapi aku yakin suatu hari mereka akan berterima kasih atas apa yang kuajarkan hari ini. Go..Go..Girls!

Wednesday, May 4, 2011

holiday

Well, sebenarnya ini cerita libur yang sudah lewat bbrp bulan yang lalu. Maret 2011, tepatnya. Setelah puas berkeliling Jakarta dengan busway, ke Ragunan, TMII, TIM, dll, akhirnya aku memutuskan untuk menjelajah Bogor. Karena tertarik nyoba tidur di lodging dlm suasana Taman Safari yang adem.

Dari JKT, dengan Pakuan Ekspress (11rb) dari Stasiun Gambir. Cukup lega karena saat ini diluar jam pulang dan berangkat kerja. Perjalanan sekitar 1 jam, lancar. Tiba di Stasiun Kota, Bogor nyambung naek angkot 02 ke Sukasari dan setibanya di Sukasari, sambung lagi dengan angkot 02 menuju Cisarua. Kenapa milih angkot? Pertama karena irit, xixixi... Dan kedua, karena ingin merasakan interaksi dengan warga Bogor, jalur kendaraan umumnya, dll. Asyik. Perjalanan dari Stasiun ke Cisarua hampir 2jam, tapi ternyata aku salah berhenti. Harusnya di simpang tiga Cisarua menuju TSI, aku malah berhenti di simpang tiga Ciawi. Justru kesalahan ini membawa berkah. Karena dari simpang tiga Ciawi, aku milih naek ojek ke Cisarua, 50rb. Memang terasa mahal, tapi begitu disuguhkan dengan pemandangan alam sepanjang jalan menuju TSI, sungguh tak ternilai. Sejuk, berpemandangan asri dengan jalan yang naik turun, wuih... mantap!!

Sampai di Safari, menuju ke lodging, minta kamar dan nyimpen barang baru kemudian ke poolbis, yang disediakan bagi penumpang untuk berkeliling. Gratis...! oia, just for info, klo beli tiket masuk safari di repsesionis lodging, kita dapat diskon lo. Lumayanlah. Saat itu, cuma ada 3 penumpang dalam bis. Aku dan 2 org penumpang lainnya. Tapi tidak mengurangi keramahan guide dan sopir yang melayani kami. Top deh.
Puas berkeliling, kami diturunkan ke bagian permainan dan bisa kembali kapan saja sesuai keinginan. Aku menghabiskan 2 jam disini. Memberanikan diri naik kereta gantung, sendirian melihat taman safari dari atas. Subhanallah.

Hari sudah menjelang sore saat aku kembali ke lodging. Dingin sekali karena hari itu hujan rinai terus menerus. Ga mandi deh. ^_^ Tapi dikamar ada shower air panas, pemanas air utk bikin teh, kopi. Kulkas, air mineral, plus TV. Alhasil, malam itu, aku mengurung diriku dalam selimut tebal sambil nonton HBO. Penilaianku terhadap lodging, bagus. Kecuali, ada banyak serangga. Dimaklumi, karena posisi yg ditengah hutan.

Paginya, aku menyewa sepeda untuk berkeliling sambil menghangatkan badan. Trus menuju restoran utk sarapan. Ternyata rame, banyak anak2 dari sekolah international. Menu-nya lumayan lengkap. Bahkan aku ditawari utk membungkus satu porsi karena kamarnya harusnya untuk 2 org. Siiplah.
Setelah sarapan, kembalikan sepeda trus mandi dengan air hangat. Berbenah untuk berangkat menuju persinggahan berikutnya. KRB, Kebun Raya Bogor.

Keluar dari safari menuju simpang Cisarua dengan ojek, bayar 7rb. Trus naik oplet lagi ke Sukasari dan dari sukasari menuju KRB. Sayang di KRB, ga boleh ada sepeda, jadi naik mobil yang disediakan untuk berkeliling. Sempat mkn bekal di depan danau, sambil baca buku. Nikmatnya....! Puas berkeliling, saatnya menuju pool damri ke JKT. Eit, lupa. Ada yang pesen minta beliin asinan bogor, mampir di seberangnya terminal dulu ya. Off to JKT.
I'm coming home. See you in my next travel. Ranca buaya, maybe??