Suatu hari, ada seorang putri yang sedang duduk termenung di samping kolam. Tiba-tiba datanglah seekor kodok melompat mendekatinya. Si kodok lalu berkata,
'Wahai, putri yang cantik. Sesungguhnya aku adalah seorang pangeran yang sedang dikutuk.'
lalu kenapa jawab sang putri
"jika ada putri yang dengan ikhlas menciumku, maka aku akan kembali menjadi pangeran. Kemudian kita akan menikah, kamu akan jadi istriku. Melahirkan anak-anakku, mencuci pakaianku, melayani aku dan kita hidup bahagia selamanya'.
tak lama kemudian
Sambil menikmati tumis kaki kodok, sang putri bergumam 'Enak saja'.
Hehehe.. itulah sebagian besar stereotype kehidupan seorang ibu dan istri, tapi aku mungkin lebih beruntung. Karena punya mereka yang mendukung cita-cita dan ide-ide ku (yang kadang berlebihan). Seharusnya ada juga peribahasa yang berkata 'Dibalik kesuksesan dan keberhasilan seorang istri, pasti ada dukungan dan kebesaran hati suaminya'. Trust me, it works. :)
Tuesday, March 27, 2012
Monday, March 5, 2012
Bekisar Merah
pengarang : Ahmad Tohari
adalah seorang Lasiyah. Perempuan muda, cantik, anak keturunan Jepang yang tinggal di desa Karangsoga dimana sebagian besar penduduknya berpenghasilan dengan menjadi penyadap Nira. Para istri kemudian berperan menjadikan nira tersebut menjadi gula, menjualnya untuk bekal kebutuhan hari tersebut. Yang kebanyakan, kurang dari yang dibutuhkan untuk hidup layak. Namun begitu, ada ketenangan dalam hidup mereka. Nrima ing pangdum.
adalah seorang Lasiyah. Perempuan muda, cantik, anak keturunan Jepang yang tinggal di desa Karangsoga dimana sebagian besar penduduknya berpenghasilan dengan menjadi penyadap Nira. Para istri kemudian berperan menjadikan nira tersebut menjadi gula, menjualnya untuk bekal kebutuhan hari tersebut. Yang kebanyakan, kurang dari yang dibutuhkan untuk hidup layak. Namun begitu, ada ketenangan dalam hidup mereka. Nrima ing pangdum.
Thursday, March 1, 2012
There’s no free lunch
‘Pernah mendengar kalimat itu?’. Aku pertama kali mendengarnya dari my boss, yang sangat baik dan mendidik sekaligus mengajariku cara berpikir logis. Awalnya tidak begitu paham apa kiranya maksud tersembunyi dari kalimat itu. Mungkin kupikir agar kita lebih berhati-hati atas semua bantuan orang lain, karena bisa dipastikan akan ada imbalan yang kemudian hari diminta kembali. Lalu benarkah ada orang yang benar-benar tulus membantu?
Jangan mengingat orang lain dulu. Mari arahkan kaca pada diri sendiri. Tuluskah kita? Saat memberi bantuan, mungkin kita menganggap diri sudah baik dengan tidak berharap imbalan apapun. Tapi tentu kita akan senang jika orang yang diberi bantuan mengucap terima kasih? Lalu, jika orang tsb tidak berterima kasih, akankah kelak kita masih ingin memberi bantuan lagi? Mungkin tidak. Karena kita menganggap, untuk apa memberi bantuan kepada orang yg tidak mengerti berucap terima kasih? Jika demikian, pantaskah kita menyebut diri ‘tulus’?
Contoh kedua, saat kita memberi sedekah. Apa sebenarnya yang kita beri? Benar-benar pemberian dari hati? Untuk siapa? Untuk hati sendiri, yang ingin menjustifikasi bahwa kita orang baik? Begitukah kita dianggap ‘tulus’?
Kembali ke kasus kita. Tuluskah aku padamu? Ternyata tidak. Karena aku jadi terlalu banyak menuntut. Aku mengharap, aku meminta ini itu. Perhatian, pengertian, waktu, kata-kata manis. Ternyata aku tidak lepas memberi bantuan hanya sebagai bantuan. Aku bahkan meminta lebih dari apa yang telah aku beri. Dan saat pintaku karam, aku kecewa. Ah, siapa kiranya yg meminta aku memberi? Tidak ada. Aku sendiri yang menawarkan bantuan, dan aku bilang itu 'for free', yang justru baru kusadari kini, bahwa tidak ada yang free. Semua ada harganya. Maafkan, kiranya aku masih perlu banyak belajar untuk tulus.
Jangan mengingat orang lain dulu. Mari arahkan kaca pada diri sendiri. Tuluskah kita? Saat memberi bantuan, mungkin kita menganggap diri sudah baik dengan tidak berharap imbalan apapun. Tapi tentu kita akan senang jika orang yang diberi bantuan mengucap terima kasih? Lalu, jika orang tsb tidak berterima kasih, akankah kelak kita masih ingin memberi bantuan lagi? Mungkin tidak. Karena kita menganggap, untuk apa memberi bantuan kepada orang yg tidak mengerti berucap terima kasih? Jika demikian, pantaskah kita menyebut diri ‘tulus’?
Contoh kedua, saat kita memberi sedekah. Apa sebenarnya yang kita beri? Benar-benar pemberian dari hati? Untuk siapa? Untuk hati sendiri, yang ingin menjustifikasi bahwa kita orang baik? Begitukah kita dianggap ‘tulus’?
Kembali ke kasus kita. Tuluskah aku padamu? Ternyata tidak. Karena aku jadi terlalu banyak menuntut. Aku mengharap, aku meminta ini itu. Perhatian, pengertian, waktu, kata-kata manis. Ternyata aku tidak lepas memberi bantuan hanya sebagai bantuan. Aku bahkan meminta lebih dari apa yang telah aku beri. Dan saat pintaku karam, aku kecewa. Ah, siapa kiranya yg meminta aku memberi? Tidak ada. Aku sendiri yang menawarkan bantuan, dan aku bilang itu 'for free', yang justru baru kusadari kini, bahwa tidak ada yang free. Semua ada harganya. Maafkan, kiranya aku masih perlu banyak belajar untuk tulus.
Subscribe to:
Posts (Atom)