‘Pernah mendengar kalimat itu?’. Aku pertama kali mendengarnya dari my boss, yang sangat baik dan mendidik sekaligus mengajariku cara berpikir logis. Awalnya tidak begitu paham apa kiranya maksud tersembunyi dari kalimat itu. Mungkin kupikir agar kita lebih berhati-hati atas semua bantuan orang lain, karena bisa dipastikan akan ada imbalan yang kemudian hari diminta kembali. Lalu benarkah ada orang yang benar-benar tulus membantu?
Jangan mengingat orang lain dulu. Mari arahkan kaca pada diri sendiri. Tuluskah kita? Saat memberi bantuan, mungkin kita menganggap diri sudah baik dengan tidak berharap imbalan apapun. Tapi tentu kita akan senang jika orang yang diberi bantuan mengucap terima kasih? Lalu, jika orang tsb tidak berterima kasih, akankah kelak kita masih ingin memberi bantuan lagi? Mungkin tidak. Karena kita menganggap, untuk apa memberi bantuan kepada orang yg tidak mengerti berucap terima kasih? Jika demikian, pantaskah kita menyebut diri ‘tulus’?
Contoh kedua, saat kita memberi sedekah. Apa sebenarnya yang kita beri? Benar-benar pemberian dari hati? Untuk siapa? Untuk hati sendiri, yang ingin menjustifikasi bahwa kita orang baik? Begitukah kita dianggap ‘tulus’?
Kembali ke kasus kita. Tuluskah aku padamu? Ternyata tidak. Karena aku jadi terlalu banyak menuntut. Aku mengharap, aku meminta ini itu. Perhatian, pengertian, waktu, kata-kata manis. Ternyata aku tidak lepas memberi bantuan hanya sebagai bantuan. Aku bahkan meminta lebih dari apa yang telah aku beri. Dan saat pintaku karam, aku kecewa. Ah, siapa kiranya yg meminta aku memberi? Tidak ada. Aku sendiri yang menawarkan bantuan, dan aku bilang itu 'for free', yang justru baru kusadari kini, bahwa tidak ada yang free. Semua ada harganya. Maafkan, kiranya aku masih perlu banyak belajar untuk tulus.
No comments:
Post a Comment