pengarang : Ahmad Tohari
adalah seorang Lasiyah. Perempuan muda, cantik, anak keturunan Jepang yang tinggal di desa Karangsoga dimana sebagian besar penduduknya berpenghasilan dengan menjadi penyadap Nira. Para istri kemudian berperan menjadikan nira tersebut menjadi gula, menjualnya untuk bekal kebutuhan hari tersebut. Yang kebanyakan, kurang dari yang dibutuhkan untuk hidup layak. Namun begitu, ada ketenangan dalam hidup mereka. Nrima ing pangdum.
Lasi yang masa kecilnya dihabiskan di Karangsoga, pun ikut dalam kebiasaan hidup tersebut. Menikah dengan Darsa, Lasi menjalani hidup sebagai istri penyadap. Penuh kerja keras tapi terasa hidup, hingga kemudian Darsa tertimpa kemalangan, terjatuh dari pohon kelapa. Hidup yang sulit kian terasa menghimpit. Darsa harus dirawat sekian lama di rumah sakit, biayanya pun diperoleh dari berhutang kepada Pak Tir, tengkulak gula Karangsoga. Namun rupanya kemalangan Lasi tak hanya sampai disitu. Suami yang berbulan-bulan dirawatnya, ternyata terjebak untuk berkhianat. Lasi patah, ia kecewa dan berlari tanpa arah ke Jakarta.
Disinilah, hidup Lasi berubah sepenuhnya. Karena parasnya yang eksotik, ia diambil oleh seorang mucikari yang kemudian menjualnya ke seorang pejabat. Lasi menjadi istri simpanan. Hidup enak dan kepenak. Tapi Lasi tak menemukan gairah hidupnya di dalam rumah mewah, ia merasa jauh berbeda. Meski dilimpahi kemewahan, Lasi tak jua bisa menjalani hidup seperti nikmatnya berpeluh menjadi istri penyadap. Saat ia telah pasrah menerima dan mau menjadi istri simpanan yang setia, jalan hidup kembali menguncang. Suaminya justru menyerahkannya ke pejabat lain, menceraikannya begitu saja.
Lasi limbung. Dalam kekacauan hati, ia minggat kembali ke Karangsoga, mencari ketenangan meski tau ia tak bisa lari dari orang Jakarta berikutnya yang menghendakinya sebagai simpanan . Di karangsoga, Lasi menemukan kembali cinta masa kecilnya, Kanjat. Anak pak Tir yang sebenarnya sudah sama saling menyuka sejak kanak-kanak. Mereka menikah siri. Lasi ingin lari ke Sulawesi demi menghilangkan jejak. Namun kemudian tertangkap. Ia dengan terpaksa kembali terbekap dalam sangkar emas. Hidup kemudian dengan caranya sendiri, mengembalikan Lasi ke pangkuan tanah Karangsoga, kembali ke Kanjat dan menjalani hidup sentosa meski tak berlimpah.
Cerita khas dengan gaya Ahmad Tohari, situasi pedesaan. Banyak sisipan petuah-petuah kejawen yang masih tak mudah dimengerti orang awam (baca: saya) dan keadaan politik tahun 60an. recommended
No comments:
Post a Comment