Apa kiranya yang lebih buruk dari kemarahan? Dulu aku berpikir marahlah, tahap emosi yang paling tidak enak untuk dihadapi, tapi ternyata ada lagi yang lebih dari itu. KECEWA. Iya, kecewa. Kamu tau bagaimana rasanya kecewa, teman? Sungguh tidak enak. Mungkin jika dalam keadaan marah, kita akan lebih mudah melampiaskan dan karenanya energy marah yang meluap akan lebih mudah terhapus. Tapi kecewa memiliki efek yang lebih dalam. Tidak terlihat seperti marah yang meluapkan energy, kecewa justru menyurutkan. Mengendap ke dalam, menghapus minat dan menimbulkan sedih. Okelah, mungkin itu semua hanya emosi, namun efek yang paling parah buatku adalah menaikkan asam lambung. Hufh… I really don’t like it.
Sama seperti sisi kehidupan lainnya. Kecewa juga punya rumus tersendiri. Ia berbanding lurus dengan harapan. Semakin besar harapan, maka semakin besar pula kecewa yang kita dapat. Tapi salah siapa? Aku yang bodoh karena berharap? Atau dia yang ingkar setelah memberi harapan? Ah, sudahlah tak penting lagi itu sekarang. Aku hanya butuh waktu untuk me-recover diri dari kekecewaan. Ces’t la vie.
Monday, February 27, 2012
Monday, February 13, 2012
menunggu itu...
Masih dalam tahap menunggu keputusan akhir CCIP, akan berhasilkan aku? Mungkin, atas izin Allah. Meski dari awal sudah bersiap untuk yang terbaik, namun kesiapan untuk menerima yang buruk belum juga bisa total. Andai bisa total berserah, mungkin perasaan menunggu tidak akan segundah ini. Bulan lalu, aku bisa lupa atau setidaknya tidak begitu ingat menunggu tapi seorang teman yang baru saja memberitakan kelulusannya pada program beasiswa lain, membuatku kembali berdebar, menari dalam harap. Sayang, aku juga tak mengenal satupun peserta lain, jadi tidak bisa saling berkomunikasi tentang hasil tes kami. Harus banyak-banyak berdo'a dan sedekah nih biar lebih mantap.
Oia, sekarang aku lebih percaya diri mempromosikan diri sebagai 'freelance translator'. Setelah hampir 2 tahun bergelut di bidang ini meski masih di lingkungan kecil agensi, tapi aku merasa lebih yakin bisa mencari penghidupan di bidang ini kelak. Tentu dengan persiapan lebih matang dan kemampuan yang lebih mumpuni.
A professional is a person who is paid to undertake a specialised set of tasks and to complete them for a fee.- wikipedia.
Rencananya, pulang dari Amerika, aku kan baktikan diriku sebagai ibu yang bekerja dari rumah (sebagai translator) dan sesekali pergi liburan. Semoga selama disana nanti, aku bisa menembus pasaran internasional dan menjadi translator yang lebih baik. Amin.
Oia, sekarang aku lebih percaya diri mempromosikan diri sebagai 'freelance translator'. Setelah hampir 2 tahun bergelut di bidang ini meski masih di lingkungan kecil agensi, tapi aku merasa lebih yakin bisa mencari penghidupan di bidang ini kelak. Tentu dengan persiapan lebih matang dan kemampuan yang lebih mumpuni.
A professional is a person who is paid to undertake a specialised set of tasks and to complete them for a fee.- wikipedia.
Rencananya, pulang dari Amerika, aku kan baktikan diriku sebagai ibu yang bekerja dari rumah (sebagai translator) dan sesekali pergi liburan. Semoga selama disana nanti, aku bisa menembus pasaran internasional dan menjadi translator yang lebih baik. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)