Monday, March 28, 2011

Amy Lowells' Poem

When you came, you were like redwine and honey
and the taste of you burnt my mouth with its sweetness
Now you are like morning bread
Smooth and pleasant.
I hardly taste you at all for I know your savour
But I am completely nourished

Puisi ini indah menurutku. Tanpa sengaja ketemu di situs yang biasa aku baca. Isinya tentang cinta yang sudah melewati masa gairah menggebu tapi tetap penuh dengan rasa sayang. Yang menurut penelitian, masa itu hanya bertahan maksimal hingga 3 tahun usia pernikahan. Lalu apa setelahnya?
Peralihan dari gairah menjadi rasa sayang. Bukan berarti kita tidak saling cinta, hanya bentuknya yang berubah. Dari sex menjadi hal-hal kecil yang menyenangkan. Yang kadang terlewatkan, tapi saat kita ingat, hal-hal kecil itulah yang membuat kita bahagia sebagai pasangan.

Orang bijak bilang, kita tidak harus selalu berusaha berbuat yang terbaik dalam semua hal, tapi kita bisa membuat semua hal yang ada menjadi yang terbaik. Love you, honey!

my side job

Since a few days ago, I'm busy with my translation job. Its a new offer for me and I'm very excited to finish it. Not easy but fun. Job will consider as fun if you do everything that interest you.

I always love to do translation. They dont give me much money (at least until now), but I'm willing to do it even for free. I hope I can strain my power on it. Must be very pleasure to make it as a living and proudly claim myself as a Professional Translator. Lets pray for the best and let GOD do the rest.

Friday, March 25, 2011

once upon a day


Once upon a day
You start calling me honey
And my heart was yours, ever since
Come downward
Realizing that you have been my dream
Through night and day

Time passes as we goes by
Missing you is the best thing in my life
Though sometime its scratch
But the wound been easily ease
Just with your divine smiling voice

I never hope too much
Cause hope will drop me to crestfallen
Just trying to make myself better each day
May Allah, blessing us with a good fate
amin

Thursday, March 24, 2011

senyum itu

terima kasih atas senyum yang kau titipkan
pada mimpiku semalam
mengiring pagi, mengusir sepi
sayang rindu, tak jua terkikis
pun menipis
separuh hati ini untukmu



24.12.10

unloneliness project

Mmm... judul ini baru saja aku temukan di situs yang akhir-akhir jadi tempat aku bertengger. Judulnya menarik, isinya tak kalah bagus. Well, it talks about our lonesome, dear! Pernah berpikir, mengapa terkadang kita merasa kesepian? Menurut artikel yang tadi kubaca, kesepian itu ada 3 tingkat, kesepian secara fisik, kesepian secara emosional dan terakhir secara intelektual.

Aku ga akan menulis ulang apa yang diceritakan artikel itu disini, tapi ada baris yang sangat aku suka. Bahwa tingkatan tertinggi dari unloneliness project adalah cinta. someone to be with, someone to talk to. Kita bahkan mengharapkan seorang partner bisa memenuhi semuanya. Kebutuhan secara fisik,  yang akan menemani kemana-mana, yang bisa diajak bicara, yang memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, seks, and everything. Kita berharap akan partner yang sempurna. Tapi tidak ada manusia yang sempurna, kan? Termasuk kita.


Dulu, aku berharap menemukan imam yang baik saat aku bersamanya. Ternyata aku salah, kita tidak bisa berharap banyak dari orang lain, kecuali diri sendiri. Bukan untuk menyatakan aku lebih baik, tapi untuk membawaku ke arah yang lebih baik, tidak pernah ada usaha darinya. Aku sendiri sudah cenderung lelah. Jadi, klo dia tidak mau, biarkan aku melangkah dengan jalanku.
Masalahnya sekarang, apakah kebersamaan ini membunuh kesepian?

Monday, March 21, 2011

grasshopper (2)

Kami diam dalam pikiran masing-masing. Mungkin berharap, hati akan berbicara ke hati, tanpa suara. Mungkin juga, kami sibuk dengan kenangan sendiri. Mereka-reka bagaimana kisah ini dimulai. Hanya cerita 2 anak manusia biasa, kisah biasa. Siapa peduli.

Tempat yang tepat, orang yang tepat meski mungkin waktunya yang tidak tepat. Kursi ini, 5 tahun yang lalu, adalah tempat kami pertama kali bertemu. Kursi di taman, dekat stasiun kereta. Aku yang duduk membaca, dia yang datang dan tiba-tiba duduk disebelahku. Persis seperti hari ini. Dia tidak tampak seperti orang yang tersesat. Langkahnya lebar dan jelas arahnya. Padahal...

Dia mencari seseorang yang bisa berbahasa Indonesia. Ah.. lucunya mengenang saat itu. Dia menoleh ke arahku, dengan mata yang penuh harap. Kamu orang Indonesia?

Thursday, March 17, 2011

grasshopper

Seseorang berjalan ke arahku. Tanpa melirik tapi aku tau dia melihatku. Dia berjalan lurus. Hanya lurus, jelas mengerti tempat yang ditujunya. Aku juga masih duduk diam di kursi taman, sambil tetap memegang buku yang kubaca. Tetap membaca, berpura-pura tidak melihatnya.

Dia tiba-tiba berhenti, tepat dihadapanku. Mengambil tempat duduk disampingku. Duduk sempurna. Membuka tas yang sejak tadi bergantung di punggungnya. Ini buatmu, katanya tanpa ekspresi. Mengulurkan sebuah bungkusan kepadaku. Aku menggangguk, pelan berucap terima kasih.

"Kau baik-baik saja?" katanya. Aku kembali menggangguk. Kami berbicara seperti orang asing yang baru bertemu. Mungkin waktu yang membuat jarak. 5 tahun tanpa pertemuan yang membekukan. Padahal andai kalian tahu, semalam kami bercerita. Jarak jauh, hanya lewat kata dan kadang suara. Namun jauh lebih indah, lebih penuh rasa. Mungkin memang baiknya kami tidak usah pernah bertemu.

Tapi aku berpikir, ini bisa jadi kesempatan pertemuan kami yang terakhir. Karenanya, aku meminta dia  kesini. Aku ingin melihat wajahnya sekali lagi. Menyimpannya lekat dalam ingatan. Entah berapa lama, ingatan itu akan bertahan, tergerus waktu, tertimpa ingatan-ingatan baru. Namun aku selalu berpikir, ingatan tentangnya selalu terasa baru dalam memori-ku. Seperti terjadi kemarin, padahal jalinan cerita kami sudah terangkai sejak 5 tahun yang lalu.

~to be continued

Wednesday, March 16, 2011

just find this

ketika dua orang jatuh cinta, yang berperan adalah kimiawi-kimiawi di otak, seperti endorfin, yang merangsang hormon estrogen dan progesteron. Mereka akan mudah merasa bahagia dan punya ketertarikan secara seksual yang tinggi. Apalagi jika hubungan itu bersifat rahasia, adrenalin pun akan meningkat dan membuat hubungan menjadi lebih menarik.

Black Swan


(review-nya versi Jenny ya)
Main cast: Natalie portman, Mila Kunis
Cerita tentang seorang ballerina yang sangat terobsesi menjadi bintang utama sebuah pertunjukan. Meski sebenarnya Nina (Natalie) memang berbakat, tapi ternyata dibutuhkan lebih dari sekedar bakat untuk bisa menjadi sang Ratu Angsa. Dimana sang Ratu, dikisahkan adalah seorang putri yang dikutuk. Kutukan  tersebut akan hilang jika ada pangeran yang mencintainya dengan tulus. Ratu Angsa mepunyai saudara kembar yang jahat, merayu sang Pangeran. Hingga kutukan itu gagal diluruhkan. Ratu Angsa putih akhirnya mati bunuh diri. Karena dibuat kembar, maka peran ratu Angsa dan Angsa hitam, dilakukan oleh satu orang.

Nina yang terobsesi menjadi sang Ratu, akhirnya mendapatkannya. Latihan yang berat, dan semua kekhawatiran merubahnya, menjadi seorang yang phobia. Persaingan dalam mendapatkan peran tsb juga tidak terhenti meski peran utama sudah ditetapkan. Lily (Mila kunis) terus mencoba mencuri kesempatan. Semua cara dihalalkan agar dapat menjadi ratu. Agak sulit membedakan mana kejadian yang nyata dan mana yang hanya ada dalam pikiran Nina. Karena semua dibuat hidup. Lily yang lesbian, Nina yang mencakar dirinya sendiri saat tidur. Mungkin benar jika kebanyakan pengamat film yang menyatakan bahwa film ini terlalu terfokus pada Natalie, bukan pada keutuhan cerita. Tapi apapun itu, film ini berhasil membuat Natalie mendapatkan Golden Globe award sebagai aktris terbaik. Obsesi memang membuahkan hasil.

rindu (1)


Apa yang lebih indah, lain dari rindu yang terjaga
Setia pada penantian
Tak jemu akan pengharapan

Kadang pupus sesaat ketika jumpa menemui
Tapi hanya sebatas itukah?
Begitu hasrat bertemu, tidak sampai dalam hitungan waktu berlalu
Semua kembali teduh

Mungkin memang sejatinya kita memang sendiri
Karena aku kadang lelah mencari 
jawab dalam hatimu
Cukuplah aku saja yang menjawabnya
Aku mau dirimu, meski sesat sesaat
Meski kadang terlambat
Meski …

Tuesday, March 15, 2011

Konsistensi

Mm.... konsistensi! Rasanya sering sekali saya merasa orang tidak konsisten dengan keputusan yang sudah diambilnya. Hari ini bilang iya, siap! Besoknya berubah lagi, sekejap bilang tidak jadi, dengan berbagai alasan yang dibuat. Padahal seharusnya sebelum bilang siap, kita sudah tau apa konsekuensi dari keputusan yang kita buat. Baik dan buruknya, siap dan tidaknya. Dan saat kita bilang siap, kita siap dalam arti sebenarnya. Siap menjalankan keputusan kita, berikut dengan semua konsekuensi dibaliknya.

Bukannya saya merasa menjadi orang paling konsisten, tidak. Saya juga pernah berubah pikiran. Tapi saya tau, jikapun saya berubah pikiran, saya juga siap dengan resikonya. Saya mengerti apa keputusan saya, apa akibatnya dan bagaimana menjaga konsistensinya. Jika saya sudah bilang iya, itu artinya benar-benar iya. Jika saya sudah bilang mau, maka orang lain akan tau, bahwa tidak akan ada yang menghalangi niat saya. Seribu cara akan saya coba demi meraihnya. Mungkin ini namanya obsesi. Tapi orang yang berhasil memang harus ter-obsesi terhadap tujuannya.

Mungkin akan ada banyak orang yang berpikir saya egois atau mungkin gila. Tapi saya tidak peduli. Asal orang-orang yang peduli dengan saya, mengerti dan tau jelas apa tujuan saya sebenarnya. Karena keputusan saya akan melibatkan mereka. Restu dan ridha mereka sudah cukup, lebih dari apapun.

Bagi saya, hidup cuma sekali, maka lakukan yang terbaik. Jangan sia-siakan setiap detik. Jangan lewatkan semua kesempatan, karena keberuntungan tidak akan datang lagi. Semua akan baik-baik saja, selama kita berpikir demikian.

Sunday, March 13, 2011

mardi (lanjutan)

Mardi dan Sukar sepuluh tahun lalu....

Adalah mereka sepasang sahabat yang saling berbagi. Dingin kala hujan, terik kala panas. Mardi hanya seorang pemulung, di sekitaran terminal dan stasiun kota. Dan Sukar,  hanyalah pengamen berbekal suara tak merdu dan getikan gitar yang pas-pasan. Naik turun kereta ekonomi jarak dekat, mengharap belas kasih manusia apatis yang diam beku dalam pikiran sendiri.


Hanya langit yang berbaik hati mempertemukan mereka. Saat Sukar tak kunjung mendapat kasihan dari penumpang kereta dan Mardi menggantung sebungkus nasi telor untuk makan malamnya, hasil dari memulung sepanjang hari. Mereka bertemu di peron kereta, saat matahari sudah lama hilang dan malam pucat tanpa sinar rembulan. Sukar yang kelaparan, duduk meringkuk diujung stasiun. Mardi yang juga lapar, berjarak 10meter darinya. Bergegas makan dengan lahapnya, tak peduli tangannya menghitam karena debu seharian.

Mereka tak saling pandang, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sukar dengan laparnya, Mardi dengan nasinya. 10 menit berlalu, ketika tiba-tiba Mardi berdiri.... Berjalan menuju Sukar. Kau lapar, katanya? Sukar diam. Tak perlu menggangguk, karena matanya yang kuyuh sudah menjawab. Ini makanlah, aku sisakan separuh untukmu. Mardi mengulurkan bungkusan nasinya. Sukar diam. Tanpa mengucap terima kasih dan segera mengambil rezeki yang terulurkan.

Dan sejak malam itu, Mardi dan Sukar, keduanya mengikrarkan diri sebagai saudara, tanpa kata-kata, tanpa hubungan darah. Seringkali mereka berbagi. Entah memang Sukar yang selalu apes, seperti namanya. Sukar mendapat rezeki. Atau memang sudah waktunya ia berpindah mencari ladang rezeki yang baru. Karena hampir sepanjang tahun, jarang sekali ia dapat membeli bahkan hanya sekali makan dalam sehari, untuk makan malam. Mardi setia berbagi. Dan saat ia mendapat lebih, mereka bisa makan lebih lega. Satu bungkus untuk tiap orang, tanpa bersisa. Dan masih dengan menu yg masih sama, nasi telor.

Dan kini, Sukar yang hadir dihadapan Mardi, adalah Sukar yang sekarang. Bukan lagi Sukar yang dikenal Mardi sepuluh tahun yang lalu, yang hanya punya semangat meski nasib tak kunjung berpihak. Yang selalu enggan meminta meski perutnya sudah perih keroncongan. Ia hampir tak percaya bahwa ini sungguh Sukar, jika saja pengemis yang dipanggilnya itu tidak melangkah kearahnya. Masih ia ingat dengan jelas, bagaimana ia dan Sukar akhirnya berpisah. Malam itu, sepuluh tahun yang lalu.....

(to be continued)

Saturday, March 12, 2011

Benang merah

Kita semua terhubung bagai benang beraneka warna. Yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sama sekali tidak rumit. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis pada hidup orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lain lagi, begitu seterusnya. Kemudian entah pada siklus ke berapa, kembali ke garis kehidupanmu. Siklus sebab akibat itu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya selain satu, yaitu Kebaikan. (part of 'Rembulan tenggelam di wajahmu')

Dulu, saya berusaha menghapus tato jelek yang tercetak dipundak kanan saya. Berjalan ke tempat dimana tidak satu orangpun yang mengenali. Berharap dengan itu semua, saya akan menjadi diri sendiri tanpa embel-embel apapun. Tapi saya sesungguhnya lupa, bahwa kita tidak pernah bisa mengingkari apa yang mengalir dalam darah. Karena perjalanan itu malah sebaliknya, menunjukkan bahwa saya adalah anak Bapak yang sebenarnya. Dimana separuh darahnya mengalir dalam tubuh, dimana separuh cara berpikirnya berdiam dalam kepala dan separuh kenakalannya juga terwarisi kepada saya.
Lalu saya bisa apa selain bersyukur? Karena lahir sebagai saya yang sekarang. Pupus sudah amarah karena saya menyadari bahwa sesungguhnya begitulah jalannya. Begitulah Allah memberikan saya hidup. Menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Namun sungguh, membalik takdir dengan berbuat kebaikan, alangkah beratnya.

Rembulan Tenggelam di wajahmu

Judul: Rembulan tenggelam di wajahmu. Pengarang Tere-liye

Buku yang sedikit menipu jika kita hanya membaca judulnya yang terkesan, lemah, terlalu romantis. Padahal jika kita baca utuh, isinya excellent. Banyak makna dan pelajaran yang berusaha diberikan penulis melalui cerita hidup seorang Ray. Anak yatim piatu yang dibesarkan sebuah panti asuhan yang pemiliknya kejam. Ray tumbuh menjadi anak pembangkang, yang menganggap kekerasan adalah satu-satunya jalan hingga membutakan dirinya akan makna yang sesungguhnya sangat dekat.

Di akhir hidupnya, Ray diberi kesempatan untuk menapak tilas kehidupannya yang telah lalu. Serta diberi kesempatan untuk bertanya. 5 pertanyaan, 5 jawaban atas semua hal yang mengganjal di masa hidupnya. Ray yang tidak pernah mengerti maksud langit yang menitipkan di panti itu, kemudian mendapatkan jawaban. Juga pertanyaannya apakah 'Hidup ini adil?' Maka jawabannya YA. Serta 3 pertanyaan lain yang semuanya menjadi begitu sederhana, jika saja Ray sejak awal mau membuka matanya akan semua hikmah.

Cerita mengalir dengan baik. Dengan sistem penulisan yang berpindah-pindah subjek tapi tetap mudah dimengerti. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam novel ini, mungkin maksudnya untuk menunjukkan bahwa kita sebenarnya terhubung dan saling terkait satu dengan yang lain, tapi menurutku, semua kebetulan cukup mengganggu makna.