Mardi dan Sukar sepuluh tahun lalu....
Adalah mereka sepasang sahabat yang saling berbagi. Dingin kala hujan, terik kala panas. Mardi hanya seorang pemulung, di sekitaran terminal dan stasiun kota. Dan Sukar, hanyalah pengamen berbekal suara tak merdu dan getikan gitar yang pas-pasan. Naik turun kereta ekonomi jarak dekat, mengharap belas kasih manusia apatis yang diam beku dalam pikiran sendiri.
Hanya langit yang berbaik hati mempertemukan mereka. Saat Sukar tak kunjung mendapat kasihan dari penumpang kereta dan Mardi menggantung sebungkus nasi telor untuk makan malamnya, hasil dari memulung sepanjang hari. Mereka bertemu di peron kereta, saat matahari sudah lama hilang dan malam pucat tanpa sinar rembulan. Sukar yang kelaparan, duduk meringkuk diujung stasiun. Mardi yang juga lapar, berjarak 10meter darinya. Bergegas makan dengan lahapnya, tak peduli tangannya menghitam karena debu seharian.
Mereka tak saling pandang, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sukar dengan laparnya, Mardi dengan nasinya. 10 menit berlalu, ketika tiba-tiba Mardi berdiri.... Berjalan menuju Sukar. Kau lapar, katanya? Sukar diam. Tak perlu menggangguk, karena matanya yang kuyuh sudah menjawab. Ini makanlah, aku sisakan separuh untukmu. Mardi mengulurkan bungkusan nasinya. Sukar diam. Tanpa mengucap terima kasih dan segera mengambil rezeki yang terulurkan.
Dan sejak malam itu, Mardi dan Sukar, keduanya mengikrarkan diri sebagai saudara, tanpa kata-kata, tanpa hubungan darah. Seringkali mereka berbagi. Entah memang Sukar yang selalu apes, seperti namanya. Sukar mendapat rezeki. Atau memang sudah waktunya ia berpindah mencari ladang rezeki yang baru. Karena hampir sepanjang tahun, jarang sekali ia dapat membeli bahkan hanya sekali makan dalam sehari, untuk makan malam. Mardi setia berbagi. Dan saat ia mendapat lebih, mereka bisa makan lebih lega. Satu bungkus untuk tiap orang, tanpa bersisa. Dan masih dengan menu yg masih sama, nasi telor.
Dan kini, Sukar yang hadir dihadapan Mardi, adalah Sukar yang sekarang. Bukan lagi Sukar yang dikenal Mardi sepuluh tahun yang lalu, yang hanya punya semangat meski nasib tak kunjung berpihak. Yang selalu enggan meminta meski perutnya sudah perih keroncongan. Ia hampir tak percaya bahwa ini sungguh Sukar, jika saja pengemis yang dipanggilnya itu tidak melangkah kearahnya. Masih ia ingat dengan jelas, bagaimana ia dan Sukar akhirnya berpisah. Malam itu, sepuluh tahun yang lalu.....
(to be continued)
No comments:
Post a Comment