Friday, June 8, 2007

..tapi ini urusan harga diri dan tidak bisa
ditawar-tawar lagi

jarum jam dinding berdetak lebih kencang berusaha
mengingatkan kedua
kecoak itu, namun mereka tetap asyik mengobrol
tanpa pernah sadar akan bahaya yang mengintai,
sesekali terlihat mereka
tertawa kecil.
Mardi semakin geram, diangkatnya tinggi-tinggi
sandal jepit itu seraya
mengumpulkan energi dari semesta alam.
Dirapalnya ajian sakti warisan nenek moyang,
gemeretak gigi suara
giginberadu, tangannya seketika memerah.
Udara dingin perlahan semakin panas dan panas,
disertai pusaran angin
panas, satu persatu barang-barang disekitar Mardi
bungkus rokok, botol aqua gelas, dan bungkus2
permen melayang diudara.

Plok !!!
Suara sandal jepit menggelegar menghantam lantai
memecah kesunyian
fajar. laksana terompet sangkakala, sangat keras.
Pengemis yang tadinya tertidur pulas bak bayi
dalam pelukan ibunya
itupun beringsut, tapi sejurus kemudian,
ia menarik selimut kucelnya menutupi kepala.
melenguh sebentar dan
tidur lagi.
Waktu seakan berhenti, nafas Mardi tertahan.
sampah2 yang melayang tadi
jatuh ke Bumi seiring dengan hantaman sndal Mardi.
Dengan  harap-harap cemas mardi mengangkat sandal
untuk memastikan
kedua musuhnya itu benar-benar sudah mati.
Apa yang semstinya terjadi..terjadilah.
TakdirNya tak bisa diingkari, dua mahluk Tuhan
tergeleatk tak bernyawa
dengan isi perut muncrat keluar.
satu lagi tercatat kekejaman yang terjadi di muka bumi,
lagi2 karena
ulah manusia dengan egonya sebahap khalifah.
Tapi Allah maha bijaksan dengan segala kesempurnaanNya,
tak ada satu
kejadianpun yang lepas dari perhitunganNya.
Takdirnya yang bicara. Mardi hanya lakon yang
kebetulan berada disitu
dan ... melakukan itu.
Wahai kecoak-kecoak yang malang, pergilah menuju Rabb-mu,
sudah habis
waktu kalian menjadi tamu ldidunia ini,
beristirahatlah dengan tenang.

Lewatlah sudah satu episode mengerikan itu. Tinggal Mardi
dengan senyum
penuh kemenangan.
Tapi, tanpa Mardi sadari ada dua pasang mata yang dari
tadi menyaksikan
semuanya, dari balik kegelapan, bersembunyi
dengan ketakutan yang sangat. Keringat bercucuran
membasahi sekujur
tubuh mereka, air mata membnajiri pipi yang pucat
menanggung kesedihan yang mendalam. Tiada lagi yang dapat mereka
lakukan, airmata pun sudah tiada berguna satu-satunya yang
dapat dilakukan hanyalah mendoakan kedua saudaranya itu.
Dialah sang
kecoak, penyebab semua bencana ini.
rasa bersalah menghakimi membuat mereka semakin menderita.
ternyata Mardi salah, seharusnya ,dia tahu dimana-mana
kecoak sama bentuknya. Kedua kecoak itu saling memandang,
berpelukan,menangung penderitaan yang dalam.
Tapi hidup harus tetap berlanjut, kedua kecoak itu berbalik
berjalan..perlahan..menjauhi Mardi.

Hembusan udara yang dibawa sang fajar dan sinar matahari
perlahan menyusupi lobang angin stasiun membawa kabar baik dan
kehidupan  hari ini dimulai. Pengemis di kursi panjang itu
beringsut bangun, mengucek mata, seperti kucing meluruskan tangan
dan kakinya dan tanpoa sengaja menendang Mardi yang
menumpang duduk diujung kursi.
Mardi terkejut, melirik selintas lalu dengan cepat membuang
pandangan ke tempat lain.
Tiba-tiba mardi berbalik dan memandangi pengemis itu lekat-lekat,
kenangan sepuluh tahun yang lalu mendadak terlintas
di kepalanya, kemudia ia berteriak lantang penuh ekspresi "Sukar !?
kaukah itu ??".

(Bekasi, 18/5/07)