..tapi ini urusan harga diri dan tidak bisa ditawar-tawar lagi jarum jam dinding berdetak lebih kencang berusaha mengingatkan kedua kecoak itu, namun mereka tetap asyik mengobrol tanpa pernah sadar akan bahaya yang mengintai, sesekali terlihat mereka tertawa kecil. Mardi semakin geram, diangkatnya tinggi-tinggi sandal jepit itu seraya mengumpulkan energi dari semesta alam. Dirapalnya ajian sakti warisan nenek moyang, gemeretak gigi suara giginberadu, tangannya seketika memerah. Udara dingin perlahan semakin panas dan panas, disertai pusaran angin panas, satu persatu barang-barang disekitar Mardi bungkus rokok, botol aqua gelas, dan bungkus2 permen melayang diudara. Plok !!! Suara sandal jepit menggelegar menghantam lantai memecah kesunyian fajar. laksana terompet sangkakala, sangat keras. Pengemis yang tadinya tertidur pulas bak bayi dalam pelukan ibunya itupun beringsut, tapi sejurus kemudian, ia menarik selimut kucelnya menutupi kepala. melenguh sebentar dan tidur lagi. Waktu seakan berhenti, nafas Mardi tertahan. sampah2 yang melayang tadi jatuh ke Bumi seiring dengan hantaman sndal Mardi. Dengan harap-harap cemas mardi mengangkat sandal untuk memastikan kedua musuhnya itu benar-benar sudah mati. Apa yang semstinya terjadi..terjadilah. TakdirNya tak bisa diingkari, dua mahluk Tuhan tergeleatk tak bernyawa dengan isi perut muncrat keluar. satu lagi tercatat kekejaman yang terjadi di muka bumi, lagi2 karena ulah manusia dengan egonya sebahap khalifah. Tapi Allah maha bijaksan dengan segala kesempurnaanNya, tak ada satu kejadianpun yang lepas dari perhitunganNya. Takdirnya yang bicara. Mardi hanya lakon yang kebetulan berada disitu dan ... melakukan itu. Wahai kecoak-kecoak yang malang, pergilah menuju Rabb-mu, sudah habis waktu kalian menjadi tamu ldidunia ini, beristirahatlah dengan tenang. Lewatlah sudah satu episode mengerikan itu. Tinggal Mardi dengan senyum penuh kemenangan. Tapi, tanpa Mardi sadari ada dua pasang mata yang dari tadi menyaksikan semuanya, dari balik kegelapan, bersembunyi dengan ketakutan yang sangat. Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka, air mata membnajiri pipi yang pucat menanggung kesedihan yang mendalam. Tiada lagi yang dapat mereka lakukan, airmata pun sudah tiada berguna satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah mendoakan kedua saudaranya itu. Dialah sang kecoak, penyebab semua bencana ini. rasa bersalah menghakimi membuat mereka semakin menderita. ternyata Mardi salah, seharusnya ,dia tahu dimana-mana kecoak sama bentuknya. Kedua kecoak itu saling memandang, berpelukan,menangung penderitaan yang dalam. Tapi hidup harus tetap berlanjut, kedua kecoak itu berbalik berjalan..perlahan..menjauhi Mardi. Hembusan udara yang dibawa sang fajar dan sinar matahari perlahan menyusupi lobang angin stasiun membawa kabar baik dan kehidupan hari ini dimulai. Pengemis di kursi panjang itu beringsut bangun, mengucek mata, seperti kucing meluruskan tangan dan kakinya dan tanpoa sengaja menendang Mardi yang menumpang duduk diujung kursi. Mardi terkejut, melirik selintas lalu dengan cepat membuang pandangan ke tempat lain. Tiba-tiba mardi berbalik dan memandangi pengemis itu lekat-lekat, kenangan sepuluh tahun yang lalu mendadak terlintas di kepalanya, kemudia ia berteriak lantang penuh ekspresi "Sukar !? kaukah itu ??". (Bekasi, 18/5/07)
Friday, June 8, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment