Suatu pagi, adek nelpon lewat Skype. Begini kira-kira ini percakapan kami:
"Adek, udah mandi?"
"Belum, ibu."
"Kok belum, dek?"
"Semalem badan adek panas, bu. Kato nenek mama, adek dak usah mandi dulu"
"Oh, ya udah ga apa ga mandi. Tapi sikat gigi dan cuci muka ya, dek. Biar tetap cantik. Kan malu klo ketauan ga mandi"
Dan kemudian dia tertawa. Kami berbicara hingga beberapa menit kemudian dia bilang 'udah dulu ya, bu.'
Iya, dek. Baek-baek, banyak minum biar badannya ga panas lagi. Besoknya, aku denger dari ayahnya, adek dibawa ke RS karena panasnya tinggi dan tak kunjung turun. Dokter di RS menyarankan adek di opname biar lebih gampang dikontrol. Allah... kasian anakku.
Saturday, September 29, 2012
Friday, September 28, 2012
18 Credits
What 18 credits means here in USA?
1. It is the most credit you can have in one semester
2. You'll have to spend at least 4 full days in a week at your campus
3. You'll have to manage you time very carefully, so that you can finish all your assignment on time
Itulah arti 18 kredit disini. Awalnya aku juga tidak pernah berencana mau ambil 18 kredit semester ini. Ceritanya, saat kami baru datang, advisor academic sudah memilihkan mata kuliah yang akan kami ambil berdasarkan jurusan. Tapi... kami diperbolehkan protes, tidak setuju, nangis guling2, apa aja deh, klo ga berkenan dengan jadwal yang ia pilihkan.
1. It is the most credit you can have in one semester
2. You'll have to spend at least 4 full days in a week at your campus
3. You'll have to manage you time very carefully, so that you can finish all your assignment on time
Itulah arti 18 kredit disini. Awalnya aku juga tidak pernah berencana mau ambil 18 kredit semester ini. Ceritanya, saat kami baru datang, advisor academic sudah memilihkan mata kuliah yang akan kami ambil berdasarkan jurusan. Tapi... kami diperbolehkan protes, tidak setuju, nangis guling2, apa aja deh, klo ga berkenan dengan jadwal yang ia pilihkan.
Wednesday, September 26, 2012
Leadership Camp
Here is the story about Leadership Camp that we've done last week.
Bertempat di CWES, Steven Points, Wisconsin. Tanggal 22-23 Sept 2012, kami para scholar diwajibkan ikut dalam kegiatan berjudul Leadership Camp. Mereka bilang ‘siap-siap’ karena keadaan disana bakal dingin dan akomodasi yang disediakan sangat minimal. Hmm… okay?
Berangkat Sabtu pagi yang dingin (3-4 0C), kami naik bis sekitar 1 jam menuju tempat camping. Mirip dengan hutan buatan (let say, perkebunan pinus) dengan lodging yang lumayan, menurutku. Kegiatan pertama, pengenalan tim CWES dan pembagian tim peserta. Ada brainstorming activities dalam kelompok, sekedar untuk mengingatkan kami bahwa inti kegiatan berkemah kali ini adalah ‘leadership dan kerja tim’. Selanjutnya, makan siang. Alhamdulillah, mereka menyediakan menu vegetarian jadi aku ga perlu was was termakan daging yang tidak halal.
Bertempat di CWES, Steven Points, Wisconsin. Tanggal 22-23 Sept 2012, kami para scholar diwajibkan ikut dalam kegiatan berjudul Leadership Camp. Mereka bilang ‘siap-siap’ karena keadaan disana bakal dingin dan akomodasi yang disediakan sangat minimal. Hmm… okay?
Berangkat Sabtu pagi yang dingin (3-4 0C), kami naik bis sekitar 1 jam menuju tempat camping. Mirip dengan hutan buatan (let say, perkebunan pinus) dengan lodging yang lumayan, menurutku. Kegiatan pertama, pengenalan tim CWES dan pembagian tim peserta. Ada brainstorming activities dalam kelompok, sekedar untuk mengingatkan kami bahwa inti kegiatan berkemah kali ini adalah ‘leadership dan kerja tim’. Selanjutnya, makan siang. Alhamdulillah, mereka menyediakan menu vegetarian jadi aku ga perlu was was termakan daging yang tidak halal.
Friday, September 7, 2012
Resensi Buku
Kisah Sang Penandai
~Tere Liye
Ini cerita tentang perihnya duka karena cinta, negeri impian dan pendongeng. Seperti novel Tere Liye lainnya, terlalu banyak kebetulan dalam cerita ini tapi masih tetap enak diikuti, karena temanya yang tidak biasa. Dan seperti dongeng umumnya, ujung cerita ini pun bisa ditebak berakhir bahagia, semua tokoh mendapati impiannya meski harus berdarah-darah dulu. Kisah seorang Jim, yang terlalu berani mengiyakan pertanyaan Naila, cintanya.
"Apakah kau juga akan mati untukku?" Jim menggangguk tapi perbedaan kelas sosial membuat Jim dan Nayla terpisah, hingga akhirnya Nayla memutuskan mati daripada harus menikah dengan pilihan ayahnya, seorang kaya dari negeri sebrang. Lalu Jim? Beranikah Jim memenuhi janjinya, mati demi Nayla? Ternyata Jim terlalu pengecut hingga ia hanya berani menekuk lutut, menangis menyesali keberaniannya yang bodoh.
~Tere Liye
Ini cerita tentang perihnya duka karena cinta, negeri impian dan pendongeng. Seperti novel Tere Liye lainnya, terlalu banyak kebetulan dalam cerita ini tapi masih tetap enak diikuti, karena temanya yang tidak biasa. Dan seperti dongeng umumnya, ujung cerita ini pun bisa ditebak berakhir bahagia, semua tokoh mendapati impiannya meski harus berdarah-darah dulu. Kisah seorang Jim, yang terlalu berani mengiyakan pertanyaan Naila, cintanya.
"Apakah kau juga akan mati untukku?" Jim menggangguk tapi perbedaan kelas sosial membuat Jim dan Nayla terpisah, hingga akhirnya Nayla memutuskan mati daripada harus menikah dengan pilihan ayahnya, seorang kaya dari negeri sebrang. Lalu Jim? Beranikah Jim memenuhi janjinya, mati demi Nayla? Ternyata Jim terlalu pengecut hingga ia hanya berani menekuk lutut, menangis menyesali keberaniannya yang bodoh.
Subscribe to:
Posts (Atom)
