Kisah Sang Penandai
~Tere Liye
Ini cerita tentang perihnya duka karena cinta, negeri impian dan pendongeng. Seperti novel Tere Liye lainnya, terlalu banyak kebetulan dalam cerita ini tapi masih tetap enak diikuti, karena temanya yang tidak biasa. Dan seperti dongeng umumnya, ujung cerita ini pun bisa ditebak berakhir bahagia, semua tokoh mendapati impiannya meski harus berdarah-darah dulu. Kisah seorang Jim, yang terlalu berani mengiyakan pertanyaan Naila, cintanya.
"Apakah kau juga akan mati untukku?" Jim menggangguk tapi perbedaan kelas sosial membuat Jim dan Nayla terpisah, hingga akhirnya Nayla memutuskan mati daripada harus menikah dengan pilihan ayahnya, seorang kaya dari negeri sebrang. Lalu Jim? Beranikah Jim memenuhi janjinya, mati demi Nayla? Ternyata Jim terlalu pengecut hingga ia hanya berani menekuk lutut, menangis menyesali keberaniannya yang bodoh.
Sang Penandai lalu hadir, memberi Jim kemungkinan baru untuk meneruskan hidupnya. "Pecinta sejati tidak akan menyerah sebelum kematian itu sendiri menjemput dirinya". Jim dikatakan terpilih untuk menggurat dongeng, cerita tentang pahit getirnya perjalanan untuk berdamai dengan masa lalu. Ia yang memang tidak lagi punya tujuan hidup, akhirnya mengikuti saran Sang Penandai, ikut bertualang dengan Armada Kota Terapung mencari Tanah Harapan.
Meski hanya dongeng, isi cerita ini sangat bagus. Memberi motivasi, bahwa tidak pernah kata menyerah untuk menggapai harapan. Memberi pencerahan, bahwa berdamai dengan masa lalu penting demi kebahagiaan hidup kini. Dan memberi nilai dibalik setiap perjuangan, apapun hasilnya.
Habibie & Ainun
~B.J Habibie
Buku ini berkisah tentang Habibie dan Ainun. Awalnya saya berharap akan lebih banyak menemukan kisah cinta yang romantis didalamnya, tapi ternyata salah. Buku ini lebih banyak bercerita tentang perjuangan mereka berdua membangun bangsa, dengan sedikit selingan tentang kehidupan pribadi.
Pak Habibie lebih banyak menceritakan hidupnya di Jerman, bagaimana dia berkeluarga, memulai karir hingga akhirnya diminta kembali ke Indonesia. Juga tentang dukungan ibu Ainun di setiap kegiatan beliau. Yang menarik adalah bagaimana peran seorang Ainun mendukung suaminya, mulai dari 'hanya menjadi ibu rumah tangga', bekerja, memutuskan kembali ke rumah, hingga menjadi ibu Negara dihargai sebegitu besar oleh Pak Habibie.
Dalam buku ini, mereka tidak diceritakan sebagai pasangan yang sangat mesra dan romantis, tidak banyak berbicara kecuali berdiskusi hal-hal yang penting tapi justru dalam diam, berbuat, saling mendukung satu sama lain.
~ Ainun: saya bahagia malam-malam bersamanya, berdua di kamar. Dia sibuk dengan kertasnya yang berserakan di tempat tidur, saya menjahit, membaca atau berbuat yang lain.
Bagian yang mengharukan, saat pak Habibie menunggui istrinya yang sakit. Tanpa sehari pun meninggalkannya. Dia merawatnya sepenuh jiwa, memberikan semua yang terbaik hingga tiba pada suatu saat, beliau memutuskan ibu Ainun tidak perlu lagi menjalani operasi.
~ Habibie: Terima kasih Allah, Engkau menjadikan saya dan Ainun manunggal jiwa, roh, batin dan hati nurani. Kami melekat pada diri kami sepanjang masa dimanapun kami berada..."
No comments:
Post a Comment