Monday, January 9, 2012

Veronica Decide to Die


By: Paulo Coelho

This novel is all about Veronica. A young woman, has anything she could ask for, healthy, beautiful and yet she decide to kill herself only because she don’t want to see her life continue all the same, without any problems, any mistakes and also without any achievement. She taken a lot of sleeping pills in order to die peacefully in her own room. But eventually she didn’t die.

Someone found and take her to the hospital, a mental hospital. The doctor said that she only have 5 days or a week to live, since her heart was irreversibly damaged. It’s a strange when she’s very eager to die but then she struggle and cherish every minutes left. Here, she met Zedka. A woman with whom she first talk. And Eduard, a son of ambassador who pretend to be schizophrenic.

Veronica was never know that she become a subject of research conducted by Dr. Igor. The doctor gave her the time limit, to make her stop of being very meaningless to life. He made Veronika become a model for other patients in that mental hospital, who were actually healthy but afraid of facing life outside the Villete. When at last, Veronika and Eduard decide to escape, the doctor smilingly write his note. Assume that his research have been success.

A nice book, even it is not as scary as the title. A lot of life-teaching statement, intellection of what consider as normal, why do we tend to do what others told us and not the one we really want to? This book gave courage to live life to the fullest, not to feel sorry of being different or afraid to live a happy life. C’est la vie.

Sunday, January 8, 2012

We the Happy Family


By: Stock Teater & Adler Projekt

Pertunjukan teater ini diadakan di Graha Budaya, TIM Jakarta tanggal 7-8 Januari 2012. Cerita dibuat flash-back. Dimulai dari polisi yang sedang mengintrograsi si pembantu keluarga, Turni. Berkisah tentang kehidupan keluarga modern yang terlihat bahagia namun ternyata rapuh. Ayah dan Ibu yang masing-masing sibuk bekerja dan baru pulang di malam hari. 3 anak dengan masalahnya sendiri. Sulung, yang sibuk dengan band dan kuliah yang kunjung selesai. Si tengah, yang tidak mau sekolah dan menghabiskan waktu di depan teve. Dan si bungsu, yang masih SMA dan terlibat cinta sejenis.

Polisi bertanya dan Turni menjawab dengan paparan cerita. Ayah dan Ibu, masing-masing punya anak kesayangan, sementara si bungsu yang merasa terabaikan akhirnya hamil diluar nikah. Dalam kebingungan, pacarnya menyarankan aborsi. Namun urung karena tidak ingin merasa bersalah seperti yang dialaminya dulu. Ibu sibuk dengan kegiatan arisan dan pacarnya. Ayah juga tidak berbeda, sibuk dikantor dan pacaran. 

Klimaks cerita, keluarga ini saling membunuh justru disaat mereka berusaha untuk menyatukan kembali hubungan dengan mengulang foto bersama. Alur dibuat mengalir dan dengan setting yang menawan. (Salut buat tim kreatif). Pemain yang luar biasa (kang epy, ana tarigan, jempol buat mereka semua), membuat pertunjukan selama 2 jam berlalu tanpa kedipan mata. 

Pengalaman pertama nonton teater, membuatku bisa memandang hidup lebih mudah. Dengan membayangkan posisi kita sebagai penonton, yang melihat dari jauh, namun objektif. Tidak terlibat dan tidak melibatkan diri. Sangat melegakan andai kita bisa selalu menempatkan diri seperti itu jika ada dalam masalah. Sejenak memejam dan membayangkan diri keluar dari lingkaran. Melihat dari atas, sebagai penonton dan membayangkan apa yang sedang dirasakan dan mentertawakan apa yang dilakukan pemain lain dibawah sana. So, why take it so hard, dear? Just smile.

Tuesday, January 3, 2012

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Pengarang : Tere Liye

Seorang malaikat yang datang tiba-tiba dalam kehidupan kami, Tania, Dede dan Ibu. Dia yang begitu sempurna, kembali menyemaikan harapan akan hidup yang lebih baik setelah 3 tahun hidup berlalu dalam kepedihan sejak kematian Bapak. Kami yang biasanya harus bekerja seharian, mengamen sepanjang jalan, kini bersekolah lagi. Bisa hidup layak kembali dengan uluran tangannya. Namun, bukan hanya itu yang dia berikan. Tanpa bisa kucegah, benih-benih itu tumbuh dengan indah di hatiku, yang masih gadis kecil berkepang dua.

Untung tak bisa diraih, malang tak bisa dicegah. Saat bahagia itu hampir mekar, ibu berpulang. Kami kembali sendiri, 2 anak kecil yang gemetar menatap masa depan. Tapi malaikat kami meneguhkan, dia membuat kami bertahan bahkan bersinar menjadi bintang yang selalu bisa Ibu banggakan, yang juga ia banggakan. Beasiswa tak putus menghampiriku. Sayang, urusan hati kami ternyata lebih rumit daripada yang kubayangkan sebelumnya.  Aku yang sempat memupuk benih, ternyata harus rela melepasnya saat malaikat kami menikah.

Aku tergugu dalam pilu, meski kemudian berhasil bangkit. Ia yang begitu baik padaku, tak mungkin aku tega membuat semuanya rusak hanya karena cinta seorang gadis kecil berkepang dua, yang kemungkinan besar salah. Yang mungkin hanya obsesi kepada orang yang dianggapnya sempurna. Aku berdamai dengan keadaan, berdamai dengan keluarga barunya. Menerima hidup sebagaimana mestinya. Seperti daun yang tak pernah membenci angin yang menjatuhkannya ke tanah.

Diakhir cerita Tania yang telah berhasil menata hati terpaksa kembali harus bergumul dengan perasaannya, saat ternyata ia tau sang malaikat juga menyimpan rasa yang sama, yang justru lebih parah darinya, tak bisa beranjak dari kenangan meski kini ia sudah menikah. Akhir yang cukup baik, karena Tania bisa beranjak pergi meski luka pasti tetap meninggalkan bekasnya.

~jadi teringat cita-cita yang masih tersimpan, semoga suatu hari bisa terlaksana. Amin

Monday, January 2, 2012

Khadijah- Mahadaya Cinta


Pengarang:

Adalah seorang Laila, perempuan muda yang terlanjur kaya, jatuh cinta kepada seorang Nahar, pemuda pekerja biasa. Cinta keduanya berbalas, namun masih tergugu dalam ragu karena menginginkan cinta yang lebih agung dan indah, layaknya cinta bunda Khadijah dan nabi Muhammad.

Setting cerita pada wilayah yang digambarkan mirip dengan situasi Timur Tengah , padang pasir dan seringkali pada indahnya senja. Novel ini berisi sejarah kehidupan nabi dengan bunda Khadijah namun dikemas dalam bentuk dongeng nenek kepada cucunya. Laila disebutkan tinggal sebatang kara dengan perempuan tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil, yang selalu ingin melihat matahari terbenam setiap petang sambil bercerita kepada Laila. 

Tentang bunda Khadijah, tentang masa mudanya, dan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan kegalauan Laila. Dengan maksud agar Nahar juga memiliki pemikiran yang sama tentang bagaimana cinta yang agung, Laila mengundangnya ikut mendengarkan kisah dari sang Nenek. Cerita mengalir baik, dengan selang-seling kisah nabi dan cerita Laila.

Namun sayang, ujung cerita ditutup dengan Laila yang ditinggalkan sang kekasih, karena berpikir ia belum pantas dan belum memiliki keagungan cinta untuk dipersembahkan. Laila menunggu dalam kesendirian sampai tua. Kesamaan akhir cerita antara sang nenek dan Laila, menurutku justru mengganggu.

Sunday, January 1, 2012

Berkas lagi

Masih tentang CCIP. Minggu lalu aku sibuk dengan kesiapan berkas hardcopy untuk program ini. Aminef meminta para nominee agar mengirimkan softcopy berkas2 terkait termasuk copy paspor dan hardcopy beberapa ijazah dan transkrip dengan legalisir asli ke kantor mereka. Softcopy dah beres, dengan bantuan berbagai pihak dan untuk hardcopy, pas dengan jadwal kepulanganku ke palembang, jadi bisa aku siapkan sekalian.

Tapi ternyata, aku sudah tidak punya satu lembarpun legalisir asli. Kacau ini! Mungkin kesalahanku juga karena berpikir bahwa dokumen tersebut tentu masih ada dirumah, nyatanya tidak ada. Alhasil, satu hari penuh aku habiskan dengan berkeliling palembang, ke sekolahku dulu. Bolak balik, menunggu. Alhamdulillah, dengan suami dan anak2 yang setia menemani, semua bisa selesai hari itu dan segera dikirim melalui kurir, karena Aminef mensyaratkan semua sudah harus diterima keesokan harinya.

Kejadian ini akan menjadi pelajaran, bahwa aku tidak boleh menganggap mudah masalah. Semua bisa terjadi dan aku mungkin tidak akan seberuntung ini selalu. Kali berikutnya, aku akan lebih bersiap. So, tidak ada salahnya jika kita sudah mulai mempersiapkan foto untuk visa minggu depan, karena konon, bagian ini juga akan menyita perhatian. Dan mungkin belajar mengisi aplikasi visa online? Mmmm...can't wait to spend my next new year on America.