Wednesday, September 26, 2012

Leadership Camp

Here is the story about Leadership Camp that we've done last week.
Bertempat di CWES, Steven Points, Wisconsin. Tanggal 22-23 Sept 2012, kami para scholar diwajibkan ikut dalam kegiatan berjudul Leadership Camp. Mereka bilang ‘siap-siap’ karena keadaan disana bakal dingin dan akomodasi yang disediakan sangat minimal. Hmm… okay?

Berangkat Sabtu pagi yang dingin (3-4 0C), kami naik bis sekitar 1 jam menuju tempat camping. Mirip dengan hutan buatan (let say, perkebunan pinus) dengan lodging yang lumayan, menurutku. Kegiatan pertama, pengenalan tim CWES dan pembagian tim peserta. Ada brainstorming activities dalam kelompok, sekedar untuk mengingatkan kami bahwa inti kegiatan berkemah kali ini adalah ‘leadership dan kerja tim’. Selanjutnya, makan siang. Alhamdulillah, mereka menyediakan menu vegetarian jadi aku ga perlu was was termakan daging yang tidak halal.

Setelah makan siang yang menyenangkan, karena kami berkesempatan ketemu teman2 Indonesia dari kampus lain di area Wisconsin, acara dilanjutkan masih dengan kegiatan tim. Nah, karena di kegiatan pertama Mohammad lebih keliatan bertindak selaku pemimpin, di kegiatan kali ini dia tidak lagi diperbolehkan ngomong. Artinya, harus ada seseorang yang ambil kendali. Oke, I go!

Tantangannya sangat menarik. Ada satu bola kecil, satu kaleng dan satu ember besar yang bergelimpangan di tanah. Kami diberi tali dan ban bekas. Ketentuannya, bola harus diamankan di dalam kaleng dan kaleng berada dalam ember. Tidak boleh disentuh tangan, kecuali dengan tali dan ban bekas itu. Wow…! Tantangan ini cukup menyita waktu namun kemudian menyadarkanku bahwa aku sebenarnya punya bakat leadership. Dan ternyata, cara berpikir kreatif-ku yang kurang diasah. Well.. I admit that.

Tantangan kedua, juga seru. Dimana ada 2 utas tali yang direntangkan. Kelompok kami dibagi 2 dan masing2 diharuskan melewati 2 utas tali itu tanpa menyentuhnya. Artinya, orang tsb harus digotong oleh yang lain dan diangkat melewati tali. Awalnya, begitu banyak ide yang dilontarkan anggota tim, tentang bagaimana cara kami bisa melakukannya. Dan kali ini, aku yang tidak lagi boleh bicara. But… aku minta seorang teman membantuku memberi contoh, dan semua setuju bahwa cara itu yang akan dipakai. Yey….! Ternyata leader ga harus seseorang yang banyak mengatur tapi juga seseorang yang memberi contoh ‘real’.

Kegiatan terakhir kami, adalah kegiatan bebas. Kami bisa memanah atau canoeing. Aku pilih kanoe. Tapi yang satu perahu berdua. Takut tenggelam klo sendirian. Kesempatan pertama, aku berdua Mohammad. Karena dia udah coba sebelumnya, jadi dia yang lebih banyak kasih petunjuk. Aku ikut. Setelah merasa lebih pede, aku berani saat Meita minta nemeni dia. Sekarang aku yang lebih banyak berperan. Awalnya aku kira akan bisa mengendalikan kanoe hanya dengan satu orang, karena Meita belum terlalu mengerti dan hampir tidak bertenaga saat mendayung. Ternyata salah, saudara-saudara. Aku kewalahan. Untuk bisa mengendalikan kanoe dengan baik, dibutuhkan kerjasama dua orang. Satu orang yang kerja keras, tidaklah cukup.

Well, lumayan pelajaran yang aku dapat dari hasil pengalaman pribadi di Leadership Camp kali ini. Saat perjalanan pulang, mereka pada ngeluh. Aku tidak. Karena aku sudah pernah di military camp selama 2 minggu, dan camp ini tidak ada apa-apanya dibanding Rindam 2 Sriwijaya ^_^

No comments:

Post a Comment