Sunday, May 15, 2011

grasshopper (3)

Dia tersesat. Ini kali pertama ia menjejakkan kaki dikota tempat aku tinggal sementara waktu. Kota yang sebenarnya sama-sama asing untuk kami berdua. Hanya saja, waktu mengizinkan aku datang lebih dulu dan belajar lebih awal, hingga aku berkesempatan mengenal jalan disekitar kota ini. Ia akan bekerja. TKI terdidik mungkin lebih tepatnya. Laki-laki muda yang gagah, meski agak sedikit kaku dan tidak banyak bicara. Aku sendiri hanya seorang mahasiswa miskin yang mendapat berkah beasiswa. Hanya perempuan biasa, tidak cantik dan tidak banyak teman. Hanya beberapa orang teman dekat dan selebihnya teman kampus yang cuma dekat karena kesamaan kepentingan.

Hari itu, aku mengantarkannya ke alamat yang ia tunjukkan dalam buku catatannya. Buku catatan yang sangat rapi untuk ukuran pria. Tulisan mungil, bersih tanpa coretan. Kenapa aku bersedia membantunya? Entah, mungkin kala itu aku tengah bosan membaca atau mungkin karena nurani ku tergerak berbuat baik. Sepanjang perjalanan didalam kereta yang bergerak sangat cepat, kami hanya sedikit bertukar informasi. Dan satu-satunya contact yang ia berikan padaku hanyalah sebuah id pada mesin penyampai pesan. Aneh, kenapa aku tidak bertanya lebih?? Dia juga tidak meminta lebih.

Saat dia tiba di apartemen temannya, ia membungkuk dalam, mengungkapkan rasa terimakasihnya. Aku balas menunduk. Ia tidak mempersilahkan aku masuk dan aku juga sedang tidak ingin lebih lama diam dalam kekakuan. Aku pamit. Turun dari apartemen itu, aku terpaku pada warung ramen disudut jalan. Udara dingin membuatku lapar. Kakiku melangkah, masuk menyibak tirai warung yang saat itu sedang tidak terlalu ramai. Aku mengambil tempat duduk di sudut, dekat jendela. Sambil menunggu pesanan, mataku kembali memandang apartemen dari kejauhan. Hari yang aneh. Aku yang biasanya apatis, hari ini berjalan hingga sejauh ini hanya untuk mengantarkan seorang pria yang belum kukenal. Pesanan datang. Aromanya membuatku berhenti berpikir. Setidaknya aku sudah berbuat satu kebaikan hari ini. Makan sajalah.

No comments:

Post a Comment