Star: George Clooney
Film tentang seorang eksekutif yang hidupnya banyak dihabiskan di perjalanan, pesawat, tempat2 baru, hotel. George Clooney berperan sebagai seorang yang digaji untuk memecat karyawan, ia datang dari satu kantor cabang ke kantor cabang lain untuk menyampaikan berita buruk dengan cara terbaik. Setiap tahun, ia menghitung berapa banyak hari tersisa yang harus ia habiskan di rumahnya. He's a single man, never thought about marriage or having children. And he don't like to be at home...
Bagian menarik dari film ini adalah tentang obsesi George untuk mengumpulkan 10juta miles agar dapat penerbangan gratis ke bulan. George juga punya pekerjaan lain sebagai speaker di sebuah forum. Ia selalu menganalogikan hidup kita bagai sebuah 'backpack'. “Perlahan pejamkan mata Anda. Bayangkan hidup Anda bisa dimasukkan ke dalam sebuah ransel sebesar ini. Mulai dari hal terkecil, sampai semua hal yang Anda anggap penting untuk dibawa. Lalu naikkan ransel itu ke pundak Anda, seberapakah beratnya?”
George ingin menyampaikan bahwa hidup kita terasa berat karena semua beban bawaan yang kita anggap penting. Keadaan akan jauh lebih ringan, saat kita hanya membawa sedikit dari beban tersebut. Saat kita bisa memilih apa yang terpenting dan saat kita bisa menentukan batasan. Sebagai seorang traveller, ia adalah orang yang sangat efektif. Hanya satu 'carry on' di setiap perjalanan. Sebagai seorang laki-laki ia menentukan pilihan, tidak akan memberatkan diri dengan pernikahan dan anak.
Hingga di satu titik, ia bertemu dengan Alex. Perempuan eksekutif yang sama sibuknya, berpindah dari satu bandara ke bandara yang lain. Akhir cerita tidak berakhir manis, tapi tetap berkesan.
Kenapa berkesan? Seperti yang pernah dosenku bilang, 'kita cenderung membuat korelasi' dari sebuah kejadian apapun ke hidup kita sendiri. Aku pernah membayangkan seperti apa hidup yang penuh dengan jadwal perjalanan, aku juga sudah pernah mencoba. Lelah...
Selalu mudah untuk menyatakan bahwa kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita punya saat ini, namun kenyataannya tidaklah mudah untuk membuat jiwa dan pikiranku 'settle down'. Setiap kali ingin berteduh, setiap kali pula ada bagian diri yang ingin pergi menjauh lagi. Pertanyaannya kemudian, sampai kapan?
No comments:
Post a Comment