Saturday, October 6, 2012

A Price for Everything

Awalnya, atau mungkin hingga sampai saat ini, masih banyak yang berpikir bahwa menjadi pihak yang pergi, jauh lebih mudah daripada menjadi pihak yang menunggu. Benarkah? Secara psikologis, menunggu memang jauh lebih membosankan. Lebih membutuhkan kesabaran. Tapi sebegitu mudahkah keadaan bagi pihak yang sedang ditunggu?

Jawabnya, TIDAK. Yang pergi, juga mengalami kerinduan, membutuhkan kesabaran yang sama. Keadaan juga sama beratnya bagi kami. Bedanya, kami yang pergi harus bisa fokus pada satu tujuan yang ingin diraih. Sementara mereka yang menunggu, lebih disibukkan dengan hal-hal domestik lain. Semua akan menjadi lebih baik, jika dari awal kedua pihak mengerti apa yang harus dikorbankan dan bisa ikhlas menjalani keputusan yang telah disepakati.

There is always a price for everything, now I understand. Tanpa disadari, ada banyak hal yang aku lewatkan. Terutama perkembangan anak-anak. Aku tidak di sana, saat ayuk menanggalkan gigi susu pertamanya. Mama yang berperan.
Aku juga baru tau adek sekarang sudah pinter maen game, udah tau mana menang dan kalah, dia bahkan bisa maen game catur. Isn't it wonderful. Kali ini, ayahnya yang sabar ngajarin.

Semoga kita bisa melewati semua rindu ini dengan kesabaran. I love you all, baby.

~ Life is a serial of arrival and departure. I'm grateful that I have always a home to come back. The question is, am I ready to be home?

No comments:

Post a Comment