Saat Anda mencintai seseorang, bukankah Anda akan menjaga baik-baik sebuah barang yang ia titipkan pada Anda, apapun caranya? Itu baru orang. Lha kalau Anda mencintai Tuhan, bukankah Anda akan menjaga suami/istri yang Ia amanahkan pada Anda, apapun caranya? Beranikah Anda seenaknya meninggalkan titipan-Nya begitu saja? Apalagi jika Anda meyakini bahwa Ia Maha Mengawasi setiap hal yang Anda lakukan? Apalagi jika Anda juga meyakini bahwa Ia selalu punya maksud baik dengan memasangkan Anda dengan titipan-Nya? ~teddy
Membaca tulisan ini bikin tercenung, sebegitu besarkah amanah atas seorang istri atau seorang suami? Lalu kenapa ada perasaan bahwa kita tidak saling menjaga, sibuk dengan tujuan hidup masing-masing? Mungkin hanya cara nya yang berbeda. Mungkin kita sudah dianggap saling mengerti bahkan tanpa berbicara, sepatah katapun? Mungkin karena istri sudah bisa sholat dengan baik, karenanya tidak lagi dianggap perlu imam? Mungkin karena istri sudah dianggap bisa memutuskan sendiri, karenanya tidak lagi perlu masukan? Begitukah? Selalu ada timbal balik, selalu ada sebab akibat. Kadang aku berpikir, siapakah yang sebenarnya berubah? Atau dari awal sudah seperti ini adanya? Aku bahkan sampai lupa kapan terakhir kali bicara lebih dari 2 kalimat.
Ada keletihan. Ada kejengahan. Yang ada saat ini, hanya status quo, mempertahankan apa yang ada. Tak pernah tau apakah masing-masing bahagia dengan keberadaan orang lainnya? Perlukah dipertanyakan?
No comments:
Post a Comment